Total Tayangan Halaman

Sabtu, 28 September 2013

TRANSPORTASI IKAN HIDUP

TRANSPORTASI IKAN HIDUP
Oleh: anggi k

Pengangkutan ikan dalam keadaan hidup merupakan salah satu mata rantai  dalam usaha perikanan. Harga jual ikan, selain ditentukan oleh ukuran, juga ditentukan oleh kesegarannya. Oleh karena itu, kegagalan dalam pengangkutan ikan merupakan suatu kerugian. Pada prinsipnya, pengangkutan ikan hidup bertujuan untuk mempertahankan kehidupan ikan selama dalam pengangkutan sampai ke tempat tujuan. Pengangkutan dalam jarak dekat tidak membutuhkan perlakuan yang khusus. Akan tetapi pengangkutan dalam jarak jauh dan dalam waktu lama diperlukan perlakuan-perlakuan khusus untuk mempertahankan kelangsungan hidup ikan.
          Pada dasarnya, ada dua metode transportasi ikan hidup, yaitu dengan menggunakan air sebagai media atau sistem basah, dan media tanpa air atau sistem kering.

A.    PENGANGKUTAN SISTEM BASAH
Transportasi sistem basah (menggunakan air sebagai media pengangkutan) terbagi menjadi dua, yaitu :     Sistem Terbuka
       Pada sistem ini ikan diangkut dalam wadah terbuka atau tertutup tetapi secara terus menerus diberikan aerasi untuk mencukupi kebutuhan oksigen selama pengangkutan. Biasanya sistem ini hanya dilakukan dalam waktu pengangkutan yang tidak lama. Berat ikan yang aman diangkut dalam sistem ini tergantung dari efisiensi sistem aerasi, lama pengangkutan, suhu air, ukuran, serta jenis spesies ikan.


(2).     Sistem Tertutup
       Dengan cara ini ikan diangkut dalam wadah tertutup dengan suplai oksigen secara terbatas yang telah diperhitungkan sesuai kebutuhan selama pengangkutan. Wadah dapat berupa kantong plastik atau kemasan lain yang tertutup.
Faktor-faktor penting yang mempengaruhi keberhasilan pengangkutan adalah kualitas ikan, oksigen, suhu, pH, CO2, amoniak, kepadatan dan aktivitas ikan (Berka, 1986).
(1).     Kualitas Ikan
       Kualitas ikan yang ditransportasikan harus dalam keadaan sehat dan baik. Ikan yang kualitasnya rendah memiliki tingkat kematian yang lebih tinggi dalam waktu pengangkutan yang lebih lama dibandingkan dengan ikan yang kondisinya sehat.

(2).     Oksigen
Kemampuan ikan untuk menggunakan oksigen tergantung dari tingkat toleransi ikan terhadap perubahan lingkungan, suhu air, pH, konsentrasi CO2 dan hasil metabolisme seperti amoniak. Biasanya dasar yang digunakan untuk mengukur konsumsi O2 oleh ikan selama transportasi adalah berat ikan dan suhu air. Jumlah O2 yang dikonsumsi ikan selalu tergantung pada jumlah oksigen yang tersedia. Jika kandungan O2 meningkatikan akan mengkonsumsi O2 pada kondisi stabil dan ketika kadar O2 menurun konsumsi O2 oleh ikan lebih rendah dibandingkan konsumsi pada kondisi kadar O2 yang tinggi.


(3).     Suhu
Suhu merupakan faktor yang penting dalam transportasi ikan. Suhu optimum untuk transportasi ikan adalah 6 – 8 0C untuk ikan yang hidup di daerah dingin dan suhu 15 – 20 0 untuk ikan di daerah tropis.

(4).     Nilai pH, CO2, dan amonia
Nilai pH air merupakan faktor kontrol yang bersifat teknik akibat kandungan CO2 dan amoniak. CO2 sebagai hasil respirasi ikan akan mengubah pH air menjadi asam selama transportasi. Nilai pH optimum selama transportasi ikan hidup adalah 7 sampai 8. Perubahan pH menyebabkan ikan menjadi stres, untuk menanggulanginya dapat digunakan larutan bufer untuk menstabilkan pH air selama transportasi ikan. Amoniak merupakan anorganik nitrogen yang berasal dari eksresi organisme perairan, permukaan, penguraian senyawa nitrogen oleh bakteri pengurai, serta limbah industri atau rumah tangga.

(5).   Kepadatan dan aktivitas ikan selama transportasi
Perbandingan antara volume ikan dan volume air selama transportasi tidak boleh lebih dari 1 : 3 . Ikan-ikan lebih besar, seperti induk ikan dapat ditrasportasi dengan perbandingan ikan dan air sebesar 1 : 2 sampai 1 : 3 , tetapi untuk ikan-ikan kecil perbandingan ini menurun sampai 1 : 100 atau 1 : 200. Kesegaran ikan juga dipengaruhi oleh kondisi apakah ikan dalam keadaan meronta-ronta dan letih selama transportasi. Ketika ikan berada dalam wadah selama transportasi, ikan-ikan selalu berusaha melakukan aktivitas. Selama aktivitas otot berjalan, suplai darah dan oksigen tidak memenuhi, sehingga perlu disediakan oksigen yang cukup sbagai alternatif pengganti energi yang digunakan.

          Beberapa permasalahan dalam pengangkutan sistem basah adalah selalu terbentuk buih  yang disebabkan banyaknya lendir  dan kotoran ikan yang dikeluarkan. Kematian diduga karena pada saat diangkut, walaupun sudah diberok selama satu hari, isi perut masih ada. Sehingga pada saat diangkut masih ada kotoran yang mencemari media air yang digunakan untuk transportasi. Disamping itu, bobot air cukup tinggi, yaitu 1 : 3 atau 1 : 4 bagian ikan dengan air menjadi kendala tersendiri untuk dapat meningkatkan volume ikan yang diangkut.
         
B. Transportasi Sistem Kering (Semi Basah)
Pada transportasi sistem kering, media angkut yang digunkan adalah bukan air, Oleh karena itu ikan harus dikondisikan dalam keadaan aktivitas biologis rendah sehingga konsumsi energi dan oksigen juga rendah. Makin rendah metabolisme ikan, terutama jika mencapai basal, makin rendah pula aktivitas dan konsumsi oksigennya sehingga ketahanan hidup ikan untuk diangkut diluar habitatnya makin besar .
          Penggunaan transportasi sistem kering dirasakan merupakan cara yang efektif meskipun resiko mortalitasnya cukup besar. Untuk menurunkan aktivitas biologis ikan (pemingsanan ikan) dapat dilakukan dengan menggunkan suhu rendah, menggunakan bahan metabolik atau anestetik, dan arus listrik.
          Pada kemasan tanpa air, suhu diatur sedemikian rupa sehingga kecepatan metabolisme ikan berada dalam taraf metabolisme basal, karena pada taraf tersebut, oksigen yang dikonsumsi ikan sangat sedikit sekedar untuk mempertahankan hidup saja. Secara anatomi, pada saat ikan dalam keadaan tanpa air, tutup insangnya masih mangandung air sehingga melalui lapisan inilah oksigen masih diserap .

PEMINGSANAN IKAN
Kondisi pingsan merupakan kondisi tidak sadar yang dihasilkan dari sistem saraf pusat yang mengakibatkan turunnya kepekaan terhadap rangsangan dari luar dan rendahnya respon gerak dari rangsangan tersebut. Pingsan atau mati rasa pada ikan berarti sistem saraf kurang berfungsi ..
Pemingsanan ikan dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu melalui penggunaan suhu rendah, pembiusan menggunakan zat-zat kimia dan penyetruman menggunakan arus listrik.
1.     Pemingsanan dengan penggunaan  suhu rendah .
Metode pemingsanan dengan penggunaan suhu rendah dapat dilakukan dengan dua cara yaitu
q  penurunan suhu secara langsung, dimana ikan langsung dimasukan dalam air yang bersuhu 100 – 150C. Sehingga ikan akan pingsan.
q  Penurunan suhu secara bertahap, dimana suhu air sebagai media ikan diturunkan secara bertahap sampai ikan pingsan.

2. Pemingsanan ikan dengan bahan anestasi (bahan pembius)
Bahan anestasi yang dapat digunakan untuk pembiusan ikan adalah :

No
BAHAN
DOSIS
1
MS-222
0.05 mg / l
2
Novacaine
50 mg / kg berat ikan
3
Barbitas sodium
50 mg / kg berat ikan
4
Ammobarbital sodium
85 mg / kg berat ikan
5
Methyl paraphynol (dormisol)
30 mg / l
6
Tertiary amyl alcohol
30 mg / l
7
Choral hydrate
3-3.5 g lt
8
Urethane
100 mg / l
9
Hydroksi quinaldine
1 mg / l
10
Thiouracil
10 mg / l
11
Quinaldine
0.025 mg / l
12
2-Thenoxy ethanol
30 – 40 ml / 100 lt
13
Sodium ammital
52 – 172 mg / l


Selain bahan-bahan anestasi sintetik diatas pembiusan juga dapat dilakukan dengan menggunakan zat  caulerpin  dan caulerpicin yang berasal dari ekstrak rumput laut Caulerpa sp.
Pembiusan  ikan dikatakan berhasil bila memenuhi tiga kriteria, yaitu :
1       Induksi bahan pembius dalam tubuh ikan terjadi dalam waktu tiga menit atau kurang, sehingga ikan lebih mudah ditangani.
2.     Kepulihan ikan sampai gerakan renangnya kembali normal membutuhkan waktu kurang dari 10 menit.
3.  Tidak ditemukan adanya kematian ikan selama 15 menit setelah pembongkaran

Proses pembiusan ikan meliputi 3 tahap yaitu :
1.       Berpindahnya bahan pembius dari lingkungan ke dalam muara pernapasan organisme
2.       Difusi membran dalam tubuh yang menyebabkan terjadinya penyerapan bahan pembius ke dalam darah.
3.       Sirkulasi darah dan difusi jaringan menyebarkan subtansi ke seluruh tubuh. Kecepatan distribusi dan penyerapan oleh sel bergantung pada persediaan darah dan kandungan lemak pada setiap jaringan sehingga bahan anestasi juga harus mudah larut dalam air dan lemak.

3. Pemingsanan Ikan dengan Arus Listrik
Arus listrik yang aman digunakan untuk pemingsanan ikan adalah yang mempunyai daya 12 volt, karena pada 12 Volt ikan mengalami keadaan pingsan lebih cepat dan tingkat kesadaran setelah pingsan juga cepat.

PENGEMASAN
Pada pengangkutan kering diperlukan media pengisi sebagai pengganti air. Menurut Wibowo (1993), yang dimaksud dengan bahan pengisi dalam pengangkutan ikan hidup adalah bahan yang dapat ditempatkan diantara ikan hidup dalam kemasan untuk menahan ikan dalam posisinya. Selanjutnya disebutkan bahwa bahan pengisi memiliki fungsi antara lain mampu manahan ikan agar tidak bergeser dalam kemasan, menjaga lingkungan suhu rendah agar ikan tetap hidup serta memberi lingkungan udara dan kelembaban memadai untuk kelangsungan hidupnya.
Media pengisi yang sering digunakan dalam pengemasan adalah serbuk gergaji, serutan kayu, serta kertas koran atau bahan karung goni. Namun penggunaan karung goni sudah tidak digunakan karena hasilnya kurang baik. Jenis serbuk gergaji atau serutan kayu yang digunakan tidak spesifik, tergantung bahan yang tersedia.Dari bahan pengisi yaitu sekam padi, serbuk gergaji, dan rumput laut , menururt Wibowo (1993) ternyata sekam padi dan serbuk gergaji merupakan bahan pengisi terbaik karena memiliki karakteristik, yaitu :
q  Berongga
q  Mempunyai kapasitas dingin yang memada
q  Tidak beracun, dan
q  Memberikan RH tinggi.


Media serbuk gergaji memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan jenis media lainnya. Keunggulan tersebut terutama pada suhu. Serbuk gergaji mampu mempertahankan suhu rendah lebih lama yaitu 9 jam tanpa bantuan es dan tanpa beban di dalamnya. Sedangkan rumput laut kurang efektif karena menimbulkan lendir dan bau basi selama digunakan

dampak persaingan

DAMPAK PERSAINGAN

Kompetisi intraspesifik adalah kompetisi yang terjadi antar individu satu jenis ( spesies ) yang sama. Jika kerapatan populasi sedemukian rupa naiknya sehingga kebutuhan populasi yang berupa makanan, tempat tinggal, dan kebutuhan lain menjadi di luar kemampuan alam lingkungan untuk menyediakan atau mendukung secukupnya maka timbullah persaingan atau kompetisi. Kompetisi makhluk hidup adalah interaksi antara individu suatu jenis makhluk hidup yang sama atau individu spesies yang berbeda yang berakibat berkurangnya kemampuan untuk bertahan hidup satu atau beberapa individu.

Kompetisi dapat berakibat positif atau negatif bagi salah satu pihak organisme atau bahakn berakibat negatif bagi keduanya. Kompetisi tidak selalu salah dan diperlukan dalam ekosistem, untuk menunjang daya dukung lingkungan dengan mengurangi ledakan populasi hewan yang berkompetisi. Pada praktikum digunakan ikan nila dan ikan mas. Di dapat pengamatan bahwa ikan nila dan ikan mas terjadi kompetisi dan di dalam kompetisi ada yang dapat bertahan dan ada yang tidak. Kompetisi dapat terjadi dikarenakan tempat hidup dan nutrient yang merekia butuhkan sa sehingga terjadi kompetisi tersebut.


Ikan nila dan emas adalah ikan air tawar. Pada saat kompetisi berlangsung ikan yang dapat mati adalah ikan yang kalah dalam kompetisi di dalam perairan tawar, sebaliknya ikan yang kuat dan mampu beradaptasi akan tetap bertahan dan melangsungkan kehidupannya dan dapat bereproduksi.

Persaingan akan membatasi jumlah individu suatu spesies misalnya kematian, berkurangnya kesuburan dan kemampuan berkebang biak dan akan terusir individu yang tidak dapat bertahan. Persaingan ini dapat terjadi secara langsung antara individu atau terhadap lingkungannya.

tingkat kematagan gonad

MAKALAH
BIOLOGI PERIKANAN
SEKSUALITAS IKAN, TINGKAT KEMATANGAN GONAD & FEKUNDITAS
(IKAN KAKAP & IKAN KERAPU )









DI Susun Oleh
Ø   Anggi Kurniasih
Ø   Firmansyah
Ø   Mulkas Hadi S
Ø   Putra Maulana Y
Ø   Rika Apriyanti
Ø   Ratu Nurul
JURUSAN PERIKANAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA


Kata Pengantar

Puji syukur kehadirat Allah swt yang telah memberikan rahmat –Nya sehingga makalah  ini dapat selesai dengan baik. Shalawat dan salam tercurah kepada nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan para sahabatnya.
Dan tidak lupa juga kepada dosen bapak Dr. Mustahal, M. . Dengan selesainya makalah  ini dibuat untuk memenuhi tugas Biologi Perikanann.
Peyusun menyadari makalah ini masih banyak kekurangan yang perlu disempurnakan.oleh karena itu penyusun berharap adanya saran  dan kritik yang sifatnya membangun dari semua pihak sehingga makalah  ini dapat menambah pengetahuan ,khususnya bagi kami dan pembaca pada umumnya,serta  memberi dorongan semangat dalam proses belajar mengajar.



Serang, September 2012 


Peyusun


BAB I
PENDAHULUAN
1.1            Latar Belakang
Di Indonesia bayak jenis ikan yang jenisnya berbeda-beda dan hidup di antar air laut dan air tawar. Jenis ikan kakap dan ikan kerapu ini hidup di air laut. Makalah ini akan membahas tiga komponen yang terdiri dari seksualitas ikan kapak dan ikan kerapu, tingkat kematangan gonad ikan kakap dan kerapu, dan fekunditas ikan kakap dan kerapu.
Untuk membahas lebih lanjut harus tau dulu maksud dari seksualitas ikan, TKG dan fekundita terlebih dahulu. Yang termasuk seksualitas ikan mengenai alat kelamin pada ikan. Pada ikan jantan memiliki organ penghasil sperma dan ikan betina ialah yang mempunyai organ penghasil telur. Dan tingkat kematangan gonad ialah gonad pada avertebrata adalah organ-organ dalam dua tunas sebagai tambahan reproduksi utama gamet jantan dan betina jadi tingkat kematagan gonadnya. Dan fekunditas mengenai telur yang akan di keluarkan pada waktu pemijahan.
Dalam hal ini sangat penting mengetahui bagai mana cirri-ciri kematagan gonad dan seksualitas ikan kakap dan ikan kerapu serta fekenditas secara satu persatu dengan jenis yang berbeda. Dengan adanya cara untuk mengetahui tingkat kematangan gonad dapat di lihat dari pada ikan betina sebesar 10 - 25% dari berat tubuh dan pada ikan jantan sebesar 5 – 10%. dalam biologi perikanan pencatatan perubahan atau tahap - tahap kematangan gonad diperlukan untuk mengetahui perbandingan ikan - ikan yang melakukan reproduksi atau tidak. Dari pengetahuan tingkat kematangan gonad (TKG) akan didapatkan informasi, kapan satu jenis ikan memijah, baru memijah atau sudah selesai memijah. Tiap - tiap spesies ikan pada waktu pertama kali gonadnya menjadi masak tidak sama ukuranya. Demikian pula ikan yang sama spesiesnya, apalagi spesies tersebut tersebar pada lintang yang perbedaanya lebih dari 5 derajat.
Dari fekunditas secara tidak langsung kita dapat menaksir jumlah anak ikan yangakan dihasilkan dan akan menentukan jumlah ikan dalam kelas umur yang bersangkutan.Dalam hubungan ini tentu ada faktor-faktor lain yang memegang peranan penting dansangan erat hubungannya dengan strategi reproduksi dalam rangka mempertahankankehadiran spesies itu di alam.



BAB II
PEMBAHASAAN
2.1 Seksualitas Ikan Kapak & Ikan Kerapu
v  Seksualitas ikan kerapu
Ikan kerapu merupakan jenis ikan bertipe hermaprodit protogini, dimana proses diferensiasi gonadnya berjalan dari fase betina ke fase jantan atau ikan kerapu ini memulai siklus hidupnya sebagai ikan betina kemudian berubah menjadi ikan jantan. Fenomena perubahan jenis kelamin
pada ikan kerapu sangat erat hubungannya dengan aktivitas pemijahan, umur, indeks kelamin danukuran, ikan kerapu jenis Epinephelus diacantus. kecendrungan perubahan kelamin terjadi selamatidak bereproduksi yaitu antara umur 2-6 tahun, tetapi perubahan terbaik terjadi antara 2-3 tahun.
untuk jenis ikan betina ukuran berat 500 gram, panjang 26cm dan jenis kerapu jantan ukuran berat 1000 gram dan ukuran panjang 34 cm.



2.2 Tingkat Kematagan Gonad
Ukuran ikan dewasa tergantung pada jenis ikan. Ikan kerapu umumnya bersifat hermafrodit protogeni yang dapat berubah dari jantan menjadi berina setelah melewad ukuran tertentu. Pada kerapu lumpur induk jantan dapat dijumpai setelah mencapai ukuran kira-kira 11 kg, sedangkan induk betina ukuran 3 - 4 kg sudah mencapai tingkat kematangan gonad. Pindahkan induk-induk tersebut ke dalam bak-bak pemijahan yang telah disiapkan dengan perbandingan 1 jantan : 1 betina. Namun, bila perbandingan itu tidak memungkinkan maka jumlah kelamin betina lebih banyak.
ikan kakap (Lates calcalifer) yang diteliti gonadnya secara histologist didapatkan petunjuk bahwa ikan ini sebagai ikan hermaprodit sinkroni dari pada sebagai ikan jantan yang sedang transisi yaitu dengan ditemukannya jaringan testes atau ovary yang berkembang dengan baik. Ikan kakap jantan dan betina tidak berkembang testes dan ovarinya didapatkan di dalam perairan yang buntu (Land locked fresh water habitat) sebelum perairan itu berhubungan dengan laut pada waktu terjadi pasang besar.jadi gonad mereka tidah berkembang sebelum merekan beruaya.
v    Tingkat kematangan gonad pada ikan kakap

Tingkat kematangan gonad pada ikan kakap terjadi pada umur 4 tahun dengan panjang tubuh 45-60cm. pemijahan terjadi sepanjang tahun, dan mencapai puncaknya antara bulan Juli dan Desember. Induk jantan di alam akan menjaga telur yang sudah dibuahi dala mulutnya hingga 2 bulan ketika larva mulai dapat berenang.




Tingkat kematangan gonad pada ikan kerapu

Ikan kerapu pada umumnya merupakan salah satu komoditas ekspor yang diminati oleh masyarakat luar maupun dalam negeri, sehingga penangkapan semakin meningkat. Akibatnya populasi semakin menurun, dan dikhawatirkan populasi akan punah sehingga diupayakan untuk budidaya dan pengelolaan. Tujuan penelitian ini untuk melakukan kajian aspek biologi reproduksi, secara morfologi (makroskopik) dan Histologi (mikroskopik). Tingkat pemanfaatan sumber daya ikan kerapu sunu diperairan Spermonde, Sulawesi Selatan, secara morfologi (makroskopik) dan Histologi (mikroskopik). Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari samapi dengan Juli 2005 di perairan Spermonde, Sulawesi  selatan .
Metode yang digunakan adalah metode analisis deskriptif dan analisis regresi. Pengamatan Gonad, indeks kematangan gonad, fekunditas secara gravimetrik, awal matang gonad secara morfologi dan tingkat pemanfaatan berdasarkan petunjuk King. Hasil yang diperoleh secara histologi menujukkan bahwa nisbah kelamin betina, transisi dan jantan adalah 19 :11. Perkembangan gonad secara morfologi (makroskopik) terdiri dari 4 stadia, secara histologi terdiri dari 6 stadia, stadia transisi pada ukuran panjang 48 cm dan satdia jantan pada ukuran panjang 15 cm. Indeks kematangan gonad dengan panjang total 32-65 cm adalah 0,0722-3,1710.



2.3 Fekunditas
Pengetahuan mengenai fekunditas merupakan salah satu aspek yang memegang peranan penting  dalam biologi perikanan. Fekunditas  ikan telah dipelajari bukan saja merupakan salah satu aspek dari natural history, tetapi sebenarnya ada hubungannya dengan study dinamika populasi, sifat-sifat rasial,produksi dan persoalan stock-rekruitmen(Bagenal,1978). Dari fekunditas secara tidak langsung kita dapat menaksir jumlah anak ikan yang di hasilkan dan akand menentukan pula jumlah ikan dalam kelas umur yang bersangkutan. Dalam hubungan ini tentu ada factor-faktor lain yang memegang peranan penting dan sangat erat hubungannya dengan strategi reproduksi dalam rangka mempertahankan kehadiran spesies  itu di alam. Jumlah telur yang di keluarkan  merupakan satu mata rantai penghubung antara satu generasi dengan generasi berikutnya, tetapi secara umum tidak ada hubungan yang jelas antara rekunditas dengan jumlah telur yang di hasilkan.
v  Fekunditas Ikan Kerapu Dan Ikan Kakap

Pemijahan ikan kerapu dan kakap secara alamiah sebaiknya menggunakan bak-bak yang berukuran besar, yaitu 100—200 m3. Kepadatan ikan pada bak pemijahan sebaiknya tidak lebih dari 5 kg/m3 dan pergantian air per hari minimal 100%.
Bila terjadi pemijahan ikan kakap dan kerapu maka pengumpulan telur dengan mudah dapat dilakukan melalui alat pengumpul telur. Telur-telur itu kemudian dicuci lalu dipindahkan ke bak inkubasi. Jumlah telur yang dihasilkan dari proses pemijahan tergantung pada bobot induk ikan betina yang memijah. Dalam satu musim pemijahan, setiap individu betina dapat menghasilkan jutaan telur.

Fekunditas ikan kerapu spesies  Epinephelus akaarayang berukuran panjang standard 23-24 cm dapat mengandung telur sebanyak 75.000- 530 000 butir.Epinephelus morioukuran panjang 45-65cm mengandung telur sebanyak 1.500.000 butir Epinephelus guttatus. ukuran panjang 35 cm mengandung telur sebanyak 233.237 butir, dan Epinephelus diacanthusberukuran panjang 12.6-18.8 cm mengandung telur sebanyak 64.00-233.000 butir.