Total Tayangan Halaman

Minggu, 07 April 2013

jurnal pengujian formalin pada ikan asin


Pengujian Formalin pada Kandungan Ikan Asin

Anggi Kurniasih
4443111749

Praktikum Ke 1 Biokimia
Fakultas Pertanian Jurusan Perikanan


ABSTRAK
Praktikum ini di laksanakan di Leb TPHP (Teknologi Pengolahan Hasil Perairan) pada tanggal 21 Maret 2013. Metode yang di lakukan dalam praktikum ini adalah pengujian formalin terhadap ikan asin. Praktikum ini menguji terhadap beberapah sampel yang di ambil dari beberapah wilayah yang ada di banten, dengan jenis ikan asin yang berdeda-beda seperti ikan asin pepetek ( leiogh natus ), pari (dasyatis sp), semar , gabus (chanas striata ). Secara keseluruhan hasil pengujian formalin terhadap ikan asin sebagian mengandung formalin, persentase terhadap ikan asin yang memakain formalin lebih tinggi dari pada ikan yang tidak memakai larutan formalin.
                                              
Kata kunci : kandungan  larutan formalin, ikan asin


Pendahulaun

Latar Belakang
Dalam praktikum ini membahas tentang kandugan formalin yang terdapat di ikan asin. Ikan asin bahan makanan yang terbuat dari daging ikan yang diawetkan dengan menambahkan banyak garam. Dengan metode pengawetan ini daging ikan yang biasanya membusuk dalam waktu singkat dapat disimpan di suhu kamar untuk jangka waktu berbulan-bulan, walaupun biasanya harus ditutup rapat. Ikan asin ini terdapat di setiap daerah, hal ini terlihat dari tingkat konsumen yang banyak mengonsumsi ikan asin. Pada metode ini dengan menguji sampel ikan asin dari beberapa daerah yang di ambil.
Beraneka jenis ikan yang biasa diasinkan, baik ikan darat maupun ikan laut. Ikan-ikan ini dikumpulkan dalam suatu wadah dan lalu ditaburi atau direndam dalam larutan garam pekat. Ikan-ikan yang besar biasanya dibelah atau dipotong-potong lebih dulu agar garam mudah meresap ke dalam daging. Pengolahan ikan asin secara tradisional hampir selalu membutuhkan bantuan sinar matahari untuk mempercepat pengeringan, dan mencegah agar ikan tidak menjadi busuk Ikan asin bayak di konsumsi oleh sebagian besar masyarakat Indonesia yang hampir menyukai ikan asin.
Dengan menggunakan Antilin reagen penguji residu formalin pada makanan dan produk olahan lain, baik padat maupun yang berbentuk cairan. Antilin dikembangkan untuk mendeteksi secara cepat kandungan formalin pada makanan dan produk olahan.
Formalin adalah nama dagang dari campuran formaldehid, metanol dan air. Formalin yang beredar di pasaran mempunyai kadar formaldehid yang bervariasi, antara 20% – 40%. Di Indonesia, beberapa undang-undang yang melarang penggunaan formalin sebagai pengawet makanan adalah Peraturan Menteri Kesehatan No 722/1988, Peraturan Menteri Kesehatan No. 1168/Menkes/PER/X/1999, UU No 7/1996 tentang Pangan dan UU No 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen
Larutan yang di pakai dalam metode untuk mengetahui ikan asin yang berfomalin atau tidak menggunakan larutan atilin. Larutan ini sebagai wadah untuk mengetahui tingkat pemakain formalin terhadap ikan asin yang di uji. Untuk jenis larutan ini ada dua jenis AL – A dan AL – B. larutan ini sangat di jaga dan tidak di perjualbelikan secara bebas . invensi ini menyediakan alat uji untuk mendeteksi residu formalin pada makanan dalam bentuk padat atau cairan, yang terdiri atas dua botol reagen campuran larutan pewarna pararosanilin dan larutan asam klorida.

Tujuan
Dalam praktikum ini ada beberapah tujuan untuk mengetahui tingkat pemakayan formalin dan mengetahui uji kandungan formalin di ikan asin.



METODOLOGI
Waktu dan tempat
Dalam praktikum ini di lakukan di Leb  TPHP (Teknologi Pengolahan Hasil Perairan) Universitas Sultan Ageng Tirtayasa .  Pada tanggal 21 Maret 2013. Dan pada waktu pukul 07.30 sampai dengan selesai.

Alat dan Bahan
Alat dan bahan menggunakan sampel yang di ambil di beberaph tempat yakni sampe ikan asin dari berbagai jenis seperti ikan asin gabus, pepetek, pari, semar. Dan serta siapkan pipet tetes, serta siapkan air panas dan kompor gas, lalu larutan antilin  A dan B. Lalu siapkan alat alat cobek, ikan asin, mangkuk dan tabung reaksi, serta rank tabung reaksi. Dan kamera untuk dekumentasi.

Metode praktikum
Praktikum di laksanakan di Leb TPHP (Teknologi Pengolahan Hasil Perairan) Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Serang Banten .  Pada tanggal 21 Maret 2013. Dan pada waktu pukul 07.30 sampai dengan selesai. Persiapkan sampel sampel ikan asin yang telah di ambil dari beberapah daerah seperti Panimbang, Labuan, Kronjo, Karang antu. Alat yang di gunakan dalam praktikum kali ini adalah sebahagai bahan yang sangat penting untuk penhujian kandung formalin ini adalah larutan antilin A dan B. 
Perosedur kerja dalam praktikum ini dengan menimbang ikan asin yang sudah di haluskan lalu timbang sampai ukuran (10gr). Siapkan air panas sekitar 20 ml, setelah itu abil caiaran ekstrat yang dari ikan asin yang telah di haluskan di ambil airnya setelah selesai cairan ekstrat.
Teteskan AL – A sebayak 4 tetes ke dalam tabung reaksi yang sudah di beri ekstrat dari ikan asin. Lalu tabung ke dua di teteskan dengan AL- B sebayak 4 tetes juga, setalah itu kocok dan diamkan selama kurang lebih 10 menit.
Lalu mulai pengamatan dengan teliti selama 10 menit itu berlangsung. Dengan demikian hasilnya akan kelihatan dengan perbedaan warna yang secara berbeda terhadap beberapa sampel yang di ujikan.
Dengan larutan antilin ini maka makanan atau pun ikan asin akan terdeteksi bahwa ada tidaknya kandungan formalin di makanan tersebut, antilin yang terdiri atas dua botol reagen campuran larutan pewarna pararosanilin dan larutan asam klorida. Bila formalin yang terdapat pada larutan sampel terkombinasi dengan larutan campuran tersebut maka akan terbentuk struktur

quinonoid yang berwarna sama dengan pewarna utama (merah ungu) tetapi dengan rona biru gelap. Pengujian menggunakan metode ini sangat sensitif dan spesifik untuk formalin, bukan aldehid lain. Alat ini dapat digunakan untuk mendeteksi keberadaan formalin pada produk makanan dengan batas deteksi minimal 2 ppm. Kandugan dalam ikan asin yang di teliti ini sanagat lah menentukan dengan kadar garam sekian maka akan berpegaruh terhadap kandugan formalin yang di dalam danging ikan asin.

Prosedur kerja

Timbang ikan asin sampai  (10 gr )


tambahkan air panas (20 ml)


ambil cairan ekstrat  ( 5ml )


1.Teteskan AL – A  4 tetes
2.      Teteskan AL – B  4 tetes
 


Kocok dan diamkan kurang lebih 10 menit


Lakukan pengamatan
Dalam praktikum kali ini ada 6 kelompok yang menguji kandungan formalin pada ikan asin dengan berbagai jenis ikan asin. Dengan hasil yang berdeda beda. Dan tinggat kandugan formalin yang cukup tinggi. Dan ada yang tidak mengandung bahan pengawet formalin.
          


Tingkat presentase hasil uji kanduagan formalin yang ada di ikan asin adalah
1.   Karang antu ( *** )
2.   Kronjo   ( **** )
3.   Labuan ( ** )
4.   Panimbang 1 ( - )
5.   Panimbang 2 ( - )
6.   Kronjo ( * )

Keteragan
(****) sangat bayak mengandung formalin
( *** ) tidak terlalu bayak
(**) sanagat rendah
(*) sedikit menggunakan formalin
( - ) tidak memakai bahan pengawat

         Faktor yang mempegaruhi  penetrasi garam ke dalam tubuh ikan dipengaruhi oleh beberapa hal. Di antaranya:
  • Konsentrasi garam
Semakin tinggi konsentrasi garam yang digunakan, semakin cepat proses masuknya garam ke dalam daging ikan. Akan lebih baik apabila digunakan garam kristal untuk mengasinkan.
  • Jenis garam
Garam dapur murni (NaCl 95%) lebih mudah diserap dan menghasilkan ikan asin dengan kualitas yang lebih baik. Garam rakyat mengandung unsur-unsur lain (Mg, Ca, senyawa sulfat), kotoran, bakteri dan lain-lain yang dapat menghambat penetrasi garam dan merusak rasa ikan.


  • Ketebalan daging ikan
Semakin tebal daging ikan, proses pengasinan akan membutuhkan waktu yang semakin lama dan garam yang lebih banyak. Sehingga ikan-ikan besar biasanya dibelah-belah, dikeping atau diiris tipis sebelum diasinkan.
  • Kadar lemak dalam daging
Kadar lemak yang tinggi (di atas 2%) akan memperlambat penetrasi garam ke dalam daging ikan.
  • Kesegaran daging ikan
Ikan yang kurang segar memiliki daging yang lebih lunak dan cairan tubuh yang mudah keluar, sehingga proses pengasinan bisa lebih cepat. Namun juga garam yang masuk dapat terlalu banyak sehingga ikan menjadi terlalu asin dan kaku.
  • Suhu daging ikan
Semakin tinggi suhu daging ikan, semakin cepat garam masuk ke dalam tubuh ikan.



Hasil dan pembahasan

Hasil yang telah di ketahuin dalam pengujian kandungan larutan formalin yang ada di ikan asin dengan berbagai jenis sampel dapat di ketahui sebagai berikut :

Kelompok
Nama ikan
Asal sampel
Hasil uji
1
Pari
Karang antu
Keronjo
+ + +
+ + + +
2
Gabus
Labuan
+ +
3
Pepetek 1
Panimbang
-
4
Pepetek 2
Kronjo
+
5
Kurisi
Panimbang
-

Keteragan
(****) sangat bayak mengandung formalin
( *** ) tidak terlalu bayak
(**) sanagat rendah
(*) sedikit menggunakan formalin
( - ) tidak memakai bahan pengawat
Kelompok 1
Setelah di dilihat dengan hasil yang mengejutkan terdapat kepada kelompok 1 dengan ikan asin dan jenis ikan pari yang berasal dari kronjo dan karang antu mengejutkan ikan yang di uji dengan larutan antilin setelah di lakukan hasilnya positif (+) mengandung bahan yang tidak boleh di pakai yaitu mengandung larutan formalin, dengan demikian kita dapat melihat hasil sampel yang telah di uji oleh kelompok 1 bahwa bahan yang di ambil dari daerah karang antu dan kronjo sangat tidak layak untuk di konsumsi oleh masyarakat karena akan mengakibatkan bahaya residu yang ditinggalkannya bersifat karsinogenik bagi tubuh manusia.



Kelompok 2
Dengan hasil yang pengujian yang dapat di lihat percobaan yang di ambil dari daerah Labuan ternyata mengandung formalin tinggat (**) itu artinya sangat rendah karena kandugan yang di pakai haya sedikit.
Kelompok 3
Asal sampel dari panimbang yaitu ikan asin pepetek yang telah di uji dengan hasil yang sangas bagus ternyata hasil yang di uji dengan larutan antilin adalah negative ( - ) sangat bagus untuk sampel dari panimbang tidak menggunakan formalin.
Kelompok 4
Kronjo dengan hasil yang tidak terlalu bayak mengandung formalin yang telah di uji di leb menyaatakan hasil uji kandungan formalin terhadap ikan asin yang berasal dari daerah kronjo yaitu ( * ).
Kelompok 5
Panimbang ikan asin yang berasal dari panimbang semuanya negative bersih dari kandugan bahan yang berbahaya yaitu formalin tidak terdeteksi. Maka aman untuk di konsumsi oleh masyarat.


Kesimpulan dan Saran    
Kesimpulan
Dari hasil pengujian dapat di simpikan
1.      Kelompok 1 bahwa ikan asin yang bersal dari karang antu dan kronjo mengandung formalin tinggakat 1 ( +  + + + )
2.      Kelompok 2 asal sampel dari Labuan dengan jenis ikan gabus meyatakan mengandung pormalin tinggat ( + + )
3.      Kelompok 3 dengan ikan asin pepetek hasil yang di uji menyatak tidak  mengandung formalin pada ikan asin ( - )
4.      Kelompok 4 kronjo 2 yang mengandung formalin tinggat ( + )
5.      Kelompok 5 dan 3 tidak mengandung bahan pengawet dari formalin. ( - )
Saran
Untuk sarannya agar dapat memaksimalkan kenerja para mahasiswa supaya menguji bahan bahan makanan yang lain juga.


Daftar Pustaka
http://www.wikipedia.ikanasin.com  diakses pada tanggal 23-maret-2013
http://www.workes.faktor-faktor.com diakses pada tanggal 23-maret-2013
http://antarnews.latutan-antilin.com diakses pada tanggal 23-maret-2013 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar